Site Loader
Rock Street, San Francisco

            Secara umum,
kemiskinan dapat diartikan sebagai keadaan di mana terjadi ketidakmampuan untuk
memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung,
pendidikan, dan kesehatan.

            Kemiskinan juga memiliki beberapa
definisi yang berbeda-beda menurut para ahli. Menurut Suparlan, “kemiskinan adalah standar tingkat hidup yang rendah
karena kekurangan materi pada sejumlah atau golongan orang bila dibandingkan
dengan standar kehidupan yang berlaku di masyarakat sekitarnya.” Dampak dari rendahnya
standar kehidupan ini dapat secara langung terlihat pada bidang tingkat
kesehatan, kehidupan moral, dan rasa harga diri dari mereka yang tergolong
sebagai orang miskin. Bappenas atau Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
(1993) juga menjelaskan bahwa “kemiskinan adalah situasi serba kekurangan yang
terjadi bukan karena tidak dapat dihindari dengan kekuatan yang ada padanya.”

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

            Pada
dasarnya definisi kemiskinan itu sendiri dapat dikelompokan ke dalam 2 kategori, yaitu
kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut itu sendiri adalah “sejumlah penduduk yang
tidak mampu mendapatkan sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar”
(Todaro dan Smith, 2006). Dapat disimpulkan bahwa kemiskinan secara absolut terjadi
ketika seseorang tidak mampu mendapatkan sumber daya yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan pokok hidup dan bekerja seperti pangan, sandang, kesehatan, perumahan
dan pendidikan.

Kebutuhan pokok yang disebutkan
tersebut adalah kebutuhan pokok minimum yang diterjemahkan sebagai ukuran
finansial dalam bentuk uang. Pemenuhan kebutuhan pokok minimum tersebut menjadi
standar garis kemiskinan sehingga ketika seseorang tidak dapat memenuhi
kebutuhan pokok minimum tersebut maka orang tersebut dikatakan berada dibawah
garis kemiskinan.

Garis kemiskinan tersebut bersifat
absolut / tetap (tidak berubah) dalam hal standar hidup, garis kemiskinan
absolut mampu membandingkan kemiskinan secara umum dan global. Namun demikian,
antara negara yang satu dengan lainnya memiliki garis kemiskinan yang berbeda. Namun
World Bank menetapkan garis kemiskinan internasional agar dapat membandingkan
angka kemiskinan antar negara. Garis kemiskinan yang dibuat World Bank tersebut
tidak mengenal batas antar negara, tidak tergantung pada tingkat pendapatan per
kapita di suatu negara, dan juga memperhitungkan perbedaaan tingkat harga antar
negara dengan mengukur penduduk miskin sebagai orang yang hidup kurang dari US $ 1 atau $ 2
per hari dalam dolar PPP (Purchasing
Power Parity).

Sedangkan kemiskinan relatif dapat
diartikan sebagai kondisi miskin karena pengaruh kebijakan pembangunan yang
belum mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat sehingga menyebabkan
ketimpangan distribusi pendapatan (BPS, 2008). Standar kemiskinannya dibuat
berdasarkan kondisi hidup penduduk suatu negara pada waktu tertentu dan
perhatian terfokus pada 20 persen atau 40 persen penduduk pada lapisan terendah
dari total penduduk yang telah diurutkan menurut pendapatan atau pengeluaran.

Untuk menentukan sasaran penduduk
miskin dengan tepat, maka garis kemiskinan relatif cukup baik untuk digunakan
dan perlu disesuaikan terhadap tingkat pembangunan negara secara keseluruhan.
Namun, garis kemiskinan relatif ini tidak dapat dijadikan indikator untuk
membandingkan tingkat kemiskinan antar negara dan waktu karena tidak
mencerminkan tingkat kesejahteraan yang sama.

Sedangkan pola pikir atau biasa yang
sering kita sebut mindset memiliki
arti kumpulan pemikiran dan keyakinan yang membentuk kebiasaan berpikir seseorang.
Kebiasaan berpikir seseorang dapat mempengaruhi bagaimana cara berpikir, apa
yang dirasakan, dan apa yang dilakukan orang tersebut. Pola pikir itu sendiri
dapat berdampak pada bagaimana kita memahami dunia, dan bagaimana kita memahami
diri sendiri.

2.2 Hubungan Antara Kemiskinan dan Pola
Pikir

            Kemiskinan dan pola pikir adalah dua
hal yang saling berhubungan karena salah satu faktor penyebab kemiskinan adalah
kemalasan seseorang untuk bekerja. Namun sebelum itu, ada beberapa faktor penyebab
kemiskinan yang masyarakat ketahui. Beberapa faktor tersebut adalah rendahnya
lapangan pekerjaan, kurangnya keterampilan seseorang untuk bekerja, distribusi
pembangunan yang kurang merata, ledakan jumlah angkatan kerja, tingginya
tingkat inflasi dan beberapa faktor lainnya. Namun pada karya tulis ini, saya
akan lebih membahas tentang faktor kemalasan seseorang untuk bekerja. Seperti
yang kita ketahui bahwa pola pikir manusia sebenarnya yang menentukan bahwa
seseorang itu miskin atau kaya karena ketika seseorang menganggap dirinya
miskin maka orang tersebut tidak akan banyak berusaha untuk merubah keadaan
namun hanya akan menyalahkan takdir. Seperti kata Bill Gates, “Terlahir miskin,
itu bukan salah kamu, tetapi mati dalam keadaan miskin itu sudah pasti salah
kamu.” Tidak ada yang dapat memilih untuk lahir di keluarga yang seperti apa,
namun setiap orang berhak untuk menentukan masa depan yang diingankannya dengan
berusaha dan bekerja keras.

Seperti yang kita ketahui bahwa pola
pikir dapat mempengaruhi bagaimana kita memahami dunia dan kita memahami diri
sendiri. Itu artinya ketika kita membiarkan pikiran kita untuk membatasi ruang
pikir kita maka kita menutup diri dari perubahan yang terjadi di lingkungan
sekitar kita. Secara singkat dapat diartikan bahwa ketika kita bersifat apatis
dan kurang memperhatikan perubahan yang terjadi di sekitar, maka secara tidak
langsung kita membiarkan diri kita tergusur oleh zaman. Contoh yang paling
relevan dapat kita lihat pada perkembangan zaman saat ini, dimana pada era
digital ini segala sesuatunya sudah menggunakan teknologi internet. Para
pengusaha yang masih tetap mempertahankan pola pikirnya pada usaha
konvensional, lambat laun akan mulai tergusur dan tergantikan oleh para
pengusaha baru yang dapat melihat peluang dan perkembangan zaman yang terjadi. Mereka
yang tidak membiarkan pola pikirnya terbatasi oleh hal-hal konvensional akan
dapat mencerna informasi baru lebih cepat dan menangkapnya sebagai peluang. Contoh
yang dapat kita lihat adalah pada beberapa bulan terakhir, para pemilik pusat
perbelanjaan menutup toko mereka di beberapa cabang dan lebih memfokuskan pada
penjualan secara online melalui website dan aplikasi. Hal tersebut
mereka lakukan karena mereka melihat perubahan gaya hidup yang terjadi di
masyarakat dimana kebanyakan orang lebih senang berbelanja secara online daripada harus berpergian membeli
barang ke tokonya.

Pola pikir juga mempengaruhi
bagaimana kita memahami diri sendiri artinya adalah ketika kita membiasakan
diri kita berpikir hal-hal yang negatif dan membiarkan diri kita mengatakan segala
sesuatu tidak mungkin, maka hal tersebut akan tertanam di pikiran kita dan
membuat diri kita menjadi malas bekerja dan malas berusaha. Sebaliknya, jika
kita membiasakan diri kita untuk memikirkan hal-hal yang positif dan meyakinkan
diri kita bahwa segala sesuatu mungkin saja terjadi maka diri kita akan
dipenuhi dengan semangat dan jiwa bekerja keras. Secara tidak langsung,
kebiasaan berpikir positif dapat membuat tingkat produktivitas seseorang
meningkat dan kemiskinan itu sendiri dapat perlahan-lahan dihilangkan.

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Glenda!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out